Share

Waspada DB, Jangan Sepelekan Demam Pada Anak

Tingginyaa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di beberapa wilayah di Jawa Timur (Jatim) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro was-was. Apalagi, 9 Kabupaten/Kota telah ditetapkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah (DB).

Bojonegoro (Media Center) – Tingginyaa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di beberapa wilayah di Jawa Timur (Jatim) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro was-was. Apalagi, 9 Kabupaten/Kota telah ditetapkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah (DB).

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bojonegoro, Ahmad Hernowo mengatakan, dari 36 Kabupaten/Kota di Jawa Timur,  Bojonegoro termasuk kabupaten dengan jumlah kasus DB rendah.

“Bojonegoro berada di urutan 33 dari 36 Kabupaten/Kota di Jawa Timur,” jelasnya.

Meski demikian, Hernowo mengimbau agar warga Bojonegoro waspada terhadap kasus DB. Hal ini lantaran meski jumlah kasus rendah, namun tingkat mortalitas atau kematian akibat DB di Bojonegoro tergolong tinggi.

“Di bulan Januari 2015 ada 55 kasus dengan 1 anak meninggal dunia dari Kecamatan Gayam akibat DB,” imbuhnya.

Dijelaskan, hal ini lantaran pihak kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya DB. Dicontohkan, pasien DB meninggal akibat shock yang dialami karena kondisi badan yang tiba-tiba berubah.

“Hal ini menyebabkan demam yang naik turun dan shock hingga kejang dan akhirnya meninggal,” tambahnya.

Penderita yang meninggal dunia tersebut yakni warga Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Bojonegoro yang baru berusia 9 tahun. Kejadian tersebut terjadi pada beberapa waktu yang lalu. Saat itu korban juga sudah dilakukan perawatan selama beberapa hari di Puskesmas Kecamatan Padangan, namun nyawa korban tetap tidak dapat diselematkan.

Sementara total keseluruhan penderita DBD pada tahun 2014 di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 151 kasus, tiga orang diantaranya meninggal dunia. Jumlah itu menurun dibanding pada tahun 2013 sebanyak 283 kasus.

Hernowo mengimbau agar masyarakat berperan aktif dalam mengantisipasi berkembang biaknya nyamuk aedes aegipty. Salah satunya melakukan gerakan bersih-bersih lingkungan secara gotong royong dan kerja bakti.

“Misalnya satu RT atau kelurahan melakukan kerja bakti bersih-bersih lingkungan sekitar itu lebih bagus. Karena nyamuk banyak bersarang di tempat-tempat yang kotor dan rimbun,” ujarnya.

Yang utama, warga harus melakukan gerakan 3M untuk mencegah nyamuk bersarang dan berkembang biak. Ia menambahkan, meski bisa dilakukan foging atau pengasapan, hal ini hanya membunuh nyamuk dewasa, namun telur dan jentik-jentik nyamuk tetap aman berada dalam genangan air bersih.(**mcb)

Leave a Comment